suarajateng.com (Semarang) – Seniman kontemporer asal Yogyakarta, Horestes Vicha kembali memamerkan deretan karya uniknya dalam pameran bersama di Artotel Gajahmada Semarang. Mengusung teknik kolase yang telah menjadi fondasi berkaryanya sejak awal, kali ini Horestes membawa eksplorasi media ke tingkat yang lebih jauh—menggabungkan kain, resin, patung, kayu, hingga tali menjadi sebuah sajian seni instalasi bernuansa abstrak.
Melampaui Konvensional Melalui Kolase dan Kain
Bagi Horestes, prinsip dasar karya seninya tidak pernah berubah, yaitu kolase atau proses memotong dan menempel untuk menciptakan objek baru dengan pemaknaan segar. Jika sebelumnya ia bergelut di ranah realisme visual, kini ia mengeliminasi figur-figur eksplisit dan menggantinya dengan komposisi warna serta keragaman media.
Penggunaan kain sebagai medium utama tentu mengundang pertanyaan, mengingat sifat materialnya yang rapuh dan mudah kotor. Namun, di era seni kontemporer, Horestes tidak ragu untuk menerobos batasan konvensional tersebut.
“Kalau ngomongin seni kontemporer, apapun dan siapapun bisa menjadi seniman. Tinggal bagaimana mengemas karya itu menjadi sesuatu yang menarik dan relate dengan kehidupan,” kata Horestes.
Bagi Horestes, tekstur kain yang ditarik memiliki karakter visual yang serupa dengan sapuan kuas (brush stroke). Melalui kain tersebut, ia tidak hanya menjual wujud fisik, melainkan gagasan dan pengalaman estetik. Fleksibilitas medium ini bahkan telah membawa eksplorasi karyanya menembus ranah fashion hingga seni mural.
Saling Memaknai dan Merespon Karya
Karya-karya yang disajikan Horestes dirancang tanpa beban muatan khusus. Ia memilih mengumpulkan potongan-potongan cerita bak puzzle dan membiarkan audiens membangun interpretasi serta koneksi pribadi mereka sendiri.
Dalam pameran kali ini, Horestes menampilkan lima karya bernilai sekitar Rp8 juta hingga Rp15 juta. Menariknya, penentuan karya ini merupakan bentuk respon dan kompromi artistik terhadap rekan pamerannya, Umi.
“Saya di-challenge untuk tidak egois atau sekadar idealis. Saya menunggu karya Mbak Umi terlebih dahulu, baru kemudian meresponnya dengan karya-karya yang saya buat. Jadi ada sinergi di dalam ruang pameran,” tuturnya.
Semarang sebagai ‘Rumah’ Kedua
Keterikatan Horestes dengan Semarang sejatinya bukan hal baru. Selain pernah menggarap karya bertema “Manusia dan Ikan” di tempat yang sama—sebuah simbol kegigihan yang diilhami dari filosofi ikan—Semarang memiliki tempat emosional tersendiri di hatinya. Pria kelahiran Magelang yang tumbuh besar di Jogja ini menghabiskan masa remajanya menuntut ilmu di Semarang.
Pameran kali ini tak ubahnya sebuah perjalanan pulang. Kehadirannya di ruang publik seperti Artotel tidak hanya sekadar untuk memamerkan atau menjual karya, melainkan untuk menyapa kembali kota yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Pameran ini menjadi bagian dari komitmen Artotel Group dalam menghadirkan seni sebagai bagian dari pengalaman hospitality, sekaligus menciptakan ruang pertemuan antara seniman, karya, komunitas, dan publik.
General Manager Artotel Gajahmada Semarang Rudy Adimulyo menyampaikan bahwa pameran ini merupakan bagian dari upaya untuk terus mengembangkan ARTSPACE sebagai ruang kreatif yang terbuka.
“Melalui Layers of Living, kami ingin kembali menghadirkan pengalaman seni yang tidak hanya dapat dinikmati secara visual, tetapi juga memberikan ruang bagi pengunjung untuk mengenal cerita dan perspektif di balik setiap karya. Kami berharap ARTSPACE dapat terus menjadi ruang yang mempertemukan seniman dengan publik,” kata Rudy.
Mengusung tema “Layers of Living”, pameran ini memaknai kehidupan sebagai proses yang terus bergerak dan membentuk manusia melalui berbagai lapisan pengalaman. Kata “Layers” merujuk pada lapisan material dalam praktik artistik Horestes Vicha sekaligus lapisan narasi dalam karya Ummi Damas. Sementara “Living” menekankan proses menjalani kehidupan yang terus berubah, berkembang, dan meninggalkan jejak pada setiap individu.


