suarajateng.com (Semarang) – Warga Kota Semarang belakangan ini merasakan embusan angin yang lebih kencang disertai suhu udara yang terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena tersebut terjadi hampir merata, mulai dari kawasan pesisir Semarang Bawah hingga wilayah dataran tinggi Semarang Atas.
Berdasarkan penjelasan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani BMKG Semarang, kondisi tersebut merupakan fenomena alam yang dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia serta perbedaan tekanan udara antara daratan dan lautan.
Memasuki puncak musim kemarau, wilayah Jawa Tengah berada di bawah pengaruh Monsun Australia yang bertiup dari arah timur hingga tenggara.
Angin musiman ini membawa massa udara yang lebih kering dengan kecepatan cukup tinggi sehingga menyebabkan embusan angin terasa lebih kuat dibandingkan hari-hari biasa.
Selain memicu angin kencang, kondisi tersebut juga menyebabkan munculnya fenomena bediding, yaitu penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hingga dini hari.
Akibatnya, udara di Kota Semarang terasa lebih sejuk bahkan cenderung dingin, terutama di kawasan perbukitan atau wilayah dengan ketinggian lebih tinggi.
BMKG menjelaskan, faktor lain yang memperkuat angin adalah adanya gradien tekanan udara atau perbedaan tekanan yang cukup besar antara daratan Pulau Jawa dan wilayah Laut Jawa.
Dalam ilmu meteorologi, udara akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah. Semakin besar perbedaan tekanan tersebut, semakin tinggi pula kecepatan angin yang terbentuk.
Kondisi inilah yang membuat angin kencang tidak hanya dirasakan di kawasan pantai, tetapi juga di wilayah permukiman dan dataran tinggi Kota Semarang.
Meski merupakan fenomena yang lazim terjadi saat musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan.
Angin kencang berpotensi menyebabkan pohon tumbang, baliho roboh, hingga mengganggu aktivitas masyarakat di luar ruangan. Sementara suhu udara yang lebih dingin juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan jika daya tahan tubuh menurun.
Masyarakat disarankan menggunakan pakaian yang lebih hangat saat beraktivitas pada malam dan pagi hari, mengamankan benda-benda yang mudah tertiup angin, serta terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.
Fenomena angin kencang dan udara dingin ini diperkirakan masih dapat berlangsung selama periode puncak musim kemarau seiring aktifnya Monsun Australia di wilayah Indonesia.(**)


