By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
SUARA JATENGSUARA JATENGSUARA JATENG
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Reading: Kasus DBD Semarang Anjlok, dari 131 Kasus Jadi Hanya 4 Kasus
Share
Font ResizerAa
SUARA JATENGSUARA JATENG
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Search
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Have an existing account? Sign In
Follow US
Semarang

Kasus DBD Semarang Anjlok, dari 131 Kasus Jadi Hanya 4 Kasus

Estu Aprilio
Last updated: 9 September 2026 10:11 pm
Estu Aprilio
Published: 9 September 2026
Share
SHARE

suarajateng.com (SEMARANG) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang mengalami penurunan tajam sepanjang 2026. Hingga 9 September, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat hanya empat kasus.

Penurunan tersebut terlihat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya. Berdasarkan Buku Saku Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2025, jumlah kasus DBD di Kota Semarang sepanjang 2025 mencapai 131 kasus.

Kepala Dinkes Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan tersebut adalah penerapan program Wolbachia yang telah berjalan selama tiga tahun.

“Turunnya drastis. Hanya empat kasus per 9 September ini,” ujar Hakam saat ditemui di kantornya, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu (9/9).

Hakam menyebut penerapan Wolbachia memiliki efektivitas mencapai 77 persen dalam mencegah kejadian DBD di Kota Semarang.

“Ingat kita itu sudah berjuang selama tiga tahun ini dengan Wolbachia. Ternyata, Wolbachia itu 77 persen sangat bermanfaat untuk mencegah kejadian demam berdarah di Kota Semarang,” katanya.

Wolbachia merupakan bakteri yang digunakan untuk menghambat kemampuan nyamuk Aedes aegypti dalam membawa dan menularkan virus dengue.

Dengan adanya Wolbachia, nyamuk tetap dapat menggigit manusia. Namun, kemampuan nyamuk tersebut untuk menularkan virus penyebab DBD menjadi terhambat.

“Walaupun nyamuknya banyak, walaupun digigit, tetapi tidak sampai mengeluarkan virus dengue,” jelas Hakam.

Ia menjelaskan penularan virus dengue terjadi ketika nyamuk menggigit manusia dan memasukkan virus ke dalam tubuh. Kehadiran Wolbachia menghambat proses tersebut sehingga risiko penularan dapat ditekan.

Meski kasus DBD telah turun drastis, program Wolbachia di Kota Semarang masih belum mencakup seluruh wilayah. Sejumlah kelurahan dan kecamatan disebut belum memperoleh program tersebut dalam dua tahun terakhir.

Dinkes Kota Semarang menargetkan wilayah yang belum mendapatkan program Wolbachia dapat diselesaikan pada tahun ini.

“Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini kami akan selesaikan,” ungkapnya.

Namun, Hakam mengingatkan rendahnya kasus DBD tidak berarti ancaman penyakit tersebut telah hilang. Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tetap perlu dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.

Apalagi, Kota Semarang kini memasuki periode kemarau. Cuaca panas dinilai dapat mempercepat proses perkembangan nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa.

“Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” tutur Hakam.

Selain mempercepat perkembangan nyamuk, kondisi panas juga dapat membuat aktivitas nyamuk Aedes aegypti berlangsung lebih lama.

Hakam mengatakan masyarakat sering merasakan nyamuk lebih aktif ketika cuaca panas. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena keberadaan Wolbachia tetap perlu didukung dengan perilaku pencegahan di lingkungan.

“Kalau musim hujan, mungkin terbang cuma tiga jam. Begitu musim panas, kerjanya bisa lebih panjang, bisa enam jam,” katanya.

Karena itu, Dinkes Kota Semarang mendorong masyarakat tidak hanya mengandalkan program Wolbachia. Hakam bahkan menganjurkan PSN dilakukan secara rutin hingga tiga kali dalam sepekan untuk membantu menjaga lingkungan tetap terbebas dari tempat berkembang biaknya nyamuk.

Penurunan kasus DBD menjadi capaian positif dalam pengendalian dengue di Kota Semarang. Namun, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan agar tren penurunan tersebut dapat dipertahankan. (**)

You Might Also Like

PSIS Semarang Siapkan Diri untuk Laga Musim Depan
Pengamat Soroti Silayur: Dari Desain Lama ke Pendekatan Keselamatan Modern
Warga Semarang Barat Bisa Dapat Promo Sambungan Baru Tirta Moedal, Ini Syaratnya
DLH Tegaskan Pembayaran Retribusi Sampah dengan Non Tunai
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Ajak 1.000 Peserta DOSS Photolympic Sebarkan Pesona Kota Lama
TAGGED:dinas kesehatanKota Semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Olahraga

Nonton Langsung Piala Dunia 2026 di Amerika, Segini Harga Tikernya

Estu Aprilio
Estu Aprilio
1 Juni 2026
People in the Northeast Could Prevent a Covid-19 by Following These Measures
6.271 Koperasi Merah Putih di Jateng Beroperasi
12 Provinsi ini Membangun Sinergi Menjaga Ketahanan Pangan
Meriah! Karnaval Kostum Unik HUT ke-81 RI di Pakintelan Semarang
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
Suara Jateng adalah media independen tentang berita terkini seputar Jawa Tengah.
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?