Mercy Corps Indonesia Lakukan Penanaman Mangrove di Kota Pekalongan
suarajateng.com (Semarang) – Mercy Corps Indonesia melalui program Zurich Climate Resilience Alliance Indonesia (ZCRA Indonesia) berkolaborasi dengan SMA Negeri 1 Pekalongan dalam aksi penanaman 1.000 batang bibit mangrove di kawasan konservasi mangrove Kota Pekalongan, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 SMAN 1 Pekalongan bertema “Smansa Cosmopolitan”, yang diikuti oleh 321 peserta didik baru kelas X. Aksi tanam mangrove dipilih sebagai kegiatan puncak MPLS agar peserta didik baru mengenal langsung krisis ekologis yang dihadapi kota tempat mereka bersekolah, sekaligus menumbuhkan budaya peduli lingkungan sejak hari pertama masuk sekolah.
Kota Pekalongan merupakan salah satu kota pesisir Pantai Utara Jawa Tengah yang menghadapi tekanan lingkungan multidimensi, seperti abrasi pantai, banjir rob, dan penurunan muka tanah. Munculnya fenomena ‘genangan pesisir permanen’ yang disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah (land subsidence).
ZCRA Indonesia memulai kegiatan program fase 2 di Pekalongan sejak 2019, melakukan sejumlah kajian untuk menjadi basis ilmiah advokasi kebijakan perubahan iklim. Salah satu temuan dari kajian risiko dampak perubahan iklim menunjukkan bahwa rata-rata kenaikan tinggi muka laut 7,2 mm per tahun, dengan total kenaikan diproyeksikan mencapai 40 cm di 2050. Ditambah dengan penurunan permukaan tanah yang bisa mencapai 34,5 cm per tahun.
Sehari sebelum penanaman, dalam sesi pembekalan bagi peserta didik baru, Kamis (16/7/2026), Dhea Amelia Yusrina A. S., Knowledge Management Officer ZCRA Indonesia, memaparkan kondisi pesisir Pekalongan yang terus tergerus air laut akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah setiap tahunnya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak muda Pekalongan untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Isu lingkungan bukan hal yang jauh, ini merupakan hal yang sangat dekat dengan anak muda. Perubahan lanskap pesisir tentunya akan menjadi ancaman bagi ruang hidup anak muda di masa depan,” kata Dhea.
Ia berpesan agar anak muda “stay curious, stay resilient, and be adaptive” dalam arti tetaplah ingin tahu, tetap tangguh, dan mampu beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Sebagai anak muda, ada banyak peran yang bisa diambil dalam menjaga lingkungan, sesuai dengan minat dan keahlian masing-masing.
Komitmen Sekolah dalam Internalisasi Kesadaran Lingkungan
SMA Negeri 1 Pekalongan telah dua kali memperoleh pengakuan formal sebagai sekolah Adiwiyata Provinsi (2013) dan Adiwiyata Nasional (2014), sebelum akhirnya dikukuhkan sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri pada tahun 2024 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Ainun Najib, salah satu guru penggagas kegiatan penanaman mangrove ini, mengatakan penghargaan-penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi sekolah untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai aksi berkelanjutan, bukan sekadar seremoni.
“Dari penghargaan-penghargaan yang sudah diberikan ke sekolah kami, kami ingin agar menjaga lingkungan ini menjadi aksi yang berkelanjutan. Kegiatan MPLS merupakan momentum memperkenalkan komitmen sekolah dalam hal lingkungan, mulai dari tidak adanya tempat sampah sehingga siswa harus menjaga sampahnya sendiri, komitmen mengurangi sampah plastik, dan melindungi kawasan pesisir dengan penanaman mangrove,” kata Najib.
Setelah penanaman mangrove, sekolah akan melibatkan siswa dalam pemantauan berkala untuk memastikan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit mangrove tetap tinggi. Seribu bibit mangrove yang ditanam pada kegiatan ini akan dipantau tingkat kelangsungan hidupnya pada bulan pertama dan ketiga pascatanam, dengan target kelangsungan hidup masing-masing di atas 70 persen dan 60 persen. Mangrove yang tumbuh diharapkan berkontribusi pada perlindungan garis pantai dari abrasi, penyerapan karbon, serta pemulihan habitat bagi biota pesisir yang menopang perikanan tangkap masyarakat setempat.
Pada akhirnya, sebagai negara kepulauan, upaya adaptasi terhadap perubahan iklim memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah (lintas Kementerian dan Lembaga), institusi pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat. Aksi tanam mangrove bersama peserta didik SMA Negeri 1 Pekalongan ini menjadi salah satu wujud nyata dari kolaborasi di tingkat akar rumput.


