By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
SUARA JATENGSUARA JATENGSUARA JATENG
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Reading: IDAI: Kesehatan Mental Anak dan Remaja Adalah Darurat yang Terabaikan
Share
Font ResizerAa
SUARA JATENGSUARA JATENG
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Search
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Have an existing account? Sign In
Follow US
LifestyleNasional

IDAI: Kesehatan Mental Anak dan Remaja Adalah Darurat yang Terabaikan

Estu Aprilio
Last updated: 25 Juli 2026 2:59 pm
Estu Aprilio
Published: 25 Juli 2026
Share
SHARE

suarajateng.com (Jakarta) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan keprihatinan mendalam terhadap semakin daruratnya kondisi kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia.

Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mengungkapkan bahwa satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun, setara dengan sekitar 15,5 juta jiwa, mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Lebih lanjut, satu dari dua puluh remaja di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental terdiagnosis seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku .

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio.(K), menegaskan bahwa kondisi ini sering luput dari perhatian karena masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan mental merupakan problematika eksklusif orang dewasa.

“Sering kali mengira anak-anak itu belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya,” ujar Dr Piprim, Sabtu (25/7/2026).

Dr. Piprim menyoroti bahwa pola asuh yang salah menjadi salah satu faktor dominan pemicu gangguan mental. Tekanan berlebihan dari orang tua, khususnya terkait tuntutan prestasi akademik yang tidak sesuai kapasitas anak, menciptakan suasana penuh tekanan (under pressure) yang berdampak buruk pada psikologis anak.

“Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibu mengatakan kecewa karena sepertinya tidak mungkin jadi juara kelas. Ini gambaran bagaimana tekanan dari orang tua sendiri bisa memengaruhi anak,” tegasnya .

Lebih lanjut, Ketua IDAI mengajak para orang tua untuk kembali menerapkan konsep “Asuh, Asih, dan Asah” dalam pengasuhan. Rumah tangga harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk bertumbuh serta menjadi pendengar utama keluh kesah mereka. IDAI menilai keluarga adalah benteng pertama yang sangat kritis dalam mencegah dan mendeteksi dini gejala gangguan mental pada anak dan remaja .

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa tekanan teman sebaya, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten negatif di internet merupakan katalis utama memburuknya kesehatan jiwa remaja .

Tidak hanya anak, gangguan mental juga banyak dialami oleh remaja. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K) mengingatkan bahwa gejala depresi dan kecemasan pada remaja sering kali samar dan dianggap sebagai perubahan perilaku biasa masa pubertas.

Tanda-tanda seperti kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, pikiran berlebihan (overthinking), gelisah, dan keluhan fisik seperti sakit perut tanpa sebab jelas harus diwaspadai. Katalis utama memburuknya kesehatan jiwa remaja antara lain disebabkan tekanan teman sebaya, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten negatif di internet.

“Gejala ini sering dianggap perubahan perilaku biasa pada remaja, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan mental,” jelas dr. Angga. “Jika ada perubahan perilaku atau emosi yang tiba-tiba tanpa sebab jelas hingga mempengaruhi fungsi sehari-hari—seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, hingga enggan mandi—itu harus segera dirujuk ke tenaga profesional,” jelas dr Angga.

Untuk mendeteksi dini, UKK Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI merekomendasikan penggunaan instrumen Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang dapat diisi oleh anak, orang tua, atau guru untuk mengukur emosi, perilaku, dan relasi sosial anak. SDQ efektif sebagai alat skrining untuk mengetahui adanya masalah pada ranah psikososial tertentu pada anak usia 3–18 tahun.

Selain deteksi dini, dr. Angga menekankan pentingnya pendekatan komunikasi HEEADSSS (Home, Education, Activities, Drugs, Sexuality, Suicide, Safety) yang wajib dilakukan tenaga kesehatan untuk menggali masalah psikososial remaja secara holistik. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi faktor risiko dan protektif, serta membangun kedekatan dengan remaja yang seringkali enggan mengungkapkan masalahnya bila tidak ditanyakan dengan baik .

Untuk mencegah dampak buruk, orang tua didorong untuk menjalin komunikasi yang hangat tanpa menghakimi, mendorong anak melakukan kegiatan positif (olahraga, berorganisasi, mengembangkan hobi), serta membatasi durasi penggunaan media sosial. dr. Angga berpesan, “Apabila ada masalah, anak-anak harus bercerita kepada orang tua, guru, atau teman yang dipercaya.”

IDAI menegaskan bahwa investasi dalam kesehatan mental anak adalah investasi untuk masa depan bangsa yang lebih sehat dan kuat.

You Might Also Like

Kemendagri Bakal Bedah APBD Daerah yang Kesulitan Bayar Gaji PPPK
Sitatunga dari Ragunan Lahirkan Anak di Semarang Zoo
Dukung Ketahanan Keluarga, ASN Bisa WFA saat Hari Pertama Anak Masuk Sekolah
Potensi Kerugian Akibat Perubahan Iklim Bisa Capai Rp 2.005 Triliun pada 2029
Kota Semarang Jadi Daerah dengan Manajemen Dokumentasi Terbaik dan Akuntabel di Indonesia
TAGGED:anakIDAIkesehatan mentalremaja
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Nasional

Kemendagri Bakal Bedah APBD Daerah yang Kesulitan Bayar Gaji PPPK

Estu Aprilio
Estu Aprilio
17 Juli 2026
Pemprov Gelontorkan Rp28,01 Miliar Kemiskinan di Brebes
Berkat Program Rumah Subsidi, Mimpi Buruh Pabrik Bisa Terwujud
 Wali Kota Semarang Instruksikan Ekosistem Sekolah Ramah Anak
Pemkot Semarang Digitalisasi Titik Hidran, Penanganan Kebakaran Kini Lebih Cepat
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
Suara Jateng adalah media independen tentang berita terkini seputar Jawa Tengah.
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?