By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
SUARA JATENGSUARA JATENGSUARA JATENG
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Reading: Sejarah MTQ di Indonesia: Dari Masjid Sunan Ampel hingga MTQ Nasional XXXI di Semarang
Share
Font ResizerAa
SUARA JATENGSUARA JATENG
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Search
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Have an existing account? Sign In
Follow US
Semarang

Sejarah MTQ di Indonesia: Dari Masjid Sunan Ampel hingga MTQ Nasional XXXI di Semarang

Estu Aprilio
Last updated: 14 September 2026 9:02 am
Estu Aprilio
Published: 14 September 2026
Share
SHARE

suarajateng.com (SEMARANG) – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kini telah menjadi salah satu tradisi keagamaan nasional yang digelar secara berjenjang di Indonesia. Namun, perjalanan MTQ tidak lahir begitu saja sebagai agenda pemerintah.

Tradisi ini bermula dari gerakan masyarakat dan para qari yang kemudian berkembang menjadi kompetisi nasional dengan cabang perlombaan yang semakin beragam.

MTQ merupakan ajang untuk menguji kemampuan umat Islam dalam membaca, menghafal, memahami, menafsirkan, hingga menyampaikan kandungan Al-Qur’an. Penyelenggaraannya kini berlangsung secara berjenjang mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Pada 2026, MTQ memasuki penyelenggaraan ke-31 yang berlangsung di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 11–20 September.

Berawal dari Gerakan Masyarakat

Sejarah MTQ di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tradisi membaca Al-Qur’an yang telah tumbuh di tengah masyarakat sejak dekade 1940-an. Pada periode tersebut, berkembang pula Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz yang didirikan Nahdlatul Ulama.

Tradisi membaca Al-Qur’an dengan seni suara juga tumbuh di berbagai daerah. Salah satu perkembangan penting terjadi di Masjid Sunan Ampel, Surabaya, pada dekade 1950-an.

Saat membuka MTQ Nasional ke-26 di Islamic Centre, Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 30 Juli 2016, Menteri Agama periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu cikal bakal MTQ di Indonesia.

Menurut Lukman, para qari menginisiasi majelis pembacaan Al-Qur’an dengan seni suara sebagai upaya menanamkan penghayatan terhadap Al-Qur’an di tengah umat. Kegiatan tersebut, menurutnya, juga memiliki keterkaitan dengan tradisi dakwah Wali Songo.

Tingginya antusiasme masyarakat kemudian mendorong salah satu penggagas majelis, Kiai Bashori Alwi, menyampaikan gagasan kepada pemerintah agar kegiatan membaca Al-Qur’an dikembangkan dalam bentuk perlombaan.

Dari sinilah kegiatan yang semula tumbuh sebagai gerakan masyarakat mulai bergerak menuju musabaqah yang lebih terorganisasi.

Dari Majelis Qari Menjadi Musabaqah

Gagasan tersebut kemudian mendapat sambutan pemerintah. Presiden Soekarno merespons dengan menyelenggarakan musabaqah bertaraf internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada 1965.

Lukman Hakim Saifuddin menyebut momentum tersebut sebagai salah satu tonggak penting perjalanan MTQ di Indonesia. Setelah itu, Indonesia juga mengirimkan 11 qari untuk melakukan muhibah ke sejumlah negara sahabat.

Pemerintah kemudian melihat besarnya manfaat syiar Al-Qur’an melalui kegiatan tersebut. MTQ selanjutnya dilembagakan sebagai agenda resmi pemerintah dan diselenggarakan secara bergiliran di berbagai daerah.

MTQ Nasional pertama digelar pada 1968 di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu, cabang perlombaan masih terbatas pada tilawah dewasa. Dari penyelenggaraan tersebut kemudian muncul sejumlah qari yang dikenal luas, di antaranya Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.

Berubah Menjadi Tradisi Nasional

Pada masa awal, MTQ Nasional digelar setiap tahun, mulai 1968 hingga 1981. Setelah penyelenggaraan di Aceh pada 1981, pola tersebut berubah menjadi dua tahun sekali.

Seiring waktu, MTQ berkembang menjadi kompetisi berjenjang. Seleksi dan pembinaan peserta berlangsung mulai dari tingkat kampung, kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi. Para peserta terbaik dari tingkat provinsi kemudian mewakili daerahnya di ajang MTQ Nasional.

Pola tersebut membuat MTQ tidak sekadar menjadi perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan kemampuan umat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Pemerintah juga mengembangkan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ). Dalam STQ, cabang yang dipertandingkan meliputi Tilawah Al-Qur’an, Tahfidz Al-Qur’an, dan Tafsir Al-Qur’an bi Al-Arabiyyah.

Sementara dalam MTQ, cabang perlombaan berkembang lebih luas dengan mencakup Syarh Al-Qur’an, Khath Al-Qur’an, serta Cerdas Cermat Al-Qur’an atau Musabaqah Fahm Al-Qur’an.

MTQ Bakal Digelar Setiap Tahun

Pola penyelenggaraan MTQ dua tahunan kini memasuki babak baru.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa pemerintah memutuskan MTQ akan digelar setiap tahun. Kebijakan tersebut sekaligus menghapus pola pergantian MTQ dan STQ yang selama ini berlangsung.

“Setiap tahun akan dilaksanakan MTQ. Sebab, energi yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan STQ relatif sama dengan MTQ. Karena itu, sekalian saja kita ubah menjadi MTQ,” ujar Nasaruddin Umar, Jumat (11/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah menghadiri Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.

Menurut Nasaruddin, perubahan tersebut juga mempertimbangkan panjangnya daftar tunggu provinsi yang ingin menjadi tuan rumah MTQ Nasional. Dengan penyelenggaraan dua tahun sekali, pemerataan tuan rumah membutuhkan waktu cukup panjang.

Jawa Tengah, misalnya, kembali dipercaya menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 2026 setelah penantian selama 47 tahun.

Keputusan tersebut kembali ditegaskan Nasaruddin saat membuka MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Semarang, Sabtu (12/9/2026).

“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegasnya.

Tak Lagi Sekadar Seni Baca Al-Qur’an

Perjalanan MTQ juga ditandai dengan semakin beragamnya cabang perlombaan.

Jika pada awalnya MTQ lebih menonjolkan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan suara dan lagu, kini cakupannya meluas hingga hafalan, tafsir, pemahaman, kaligrafi, syarahan, hingga penulisan ilmiah.

Cabang tersebut antara lain Musabaqah Hifdz Al-Qur’an, Musabaqah Syarh Al-Qur’an, Musabaqah Fahm Al-Qur’an, Khath Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, serta Musabaqah Menulis Ilmiah Al-Qur’an.

Lukman Hakim Saifuddin menilai keragaman tersebut menunjukkan bahwa MTQ bukan sekadar panggung seni suara.

“MTQN bukan hanya kegiatan yang menampilkan seni suara saja. Namun menjadi forum ilmiah bagaimana menafsir, menalar, dan menarasikan Al-Quran,” ujarnya.

Dengan demikian, MTQ berkembang menjadi ruang untuk membaca, menghafal, menulis, memahami, menafsirkan, dan menyampaikan tuntunan Al-Qur’an.

MTQ 2026 Mulai Libatkan Komunitas Tuli Muslim

Perkembangan MTQ juga terlihat dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang. Untuk pertama kalinya, ruang partisipasi bagi komunitas Tuli Muslim semakin diperluas melalui Eksibisi Disabilitas Tuli.

Sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim mengikuti eksibisi pada 14–16 September 2026 dalam golongan Tilawah dan Kitabah Al-Qur’an Isyarat.

Kehadiran eksibisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan keagamaan yang inklusif.

Nasaruddin Umar menilai MTQ Nasional XXXI menjadi momentum penting untuk semakin memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat kepada masyarakat.

“Al Quran adalah tuntunan bagi seluruh umat. Kita harus memastikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas juga memiliki ruang dan akses yang semakin luas untuk mempelajari, memahami, dan mencintai Al Quran,” kata Nasaruddin.

31 Kali MTQ Nasional Digelar di Berbagai Daerah

Sejak pertama kali digelar pada 1968, MTQ Nasional telah berlangsung sebanyak 31 kali dan berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya.
Berikut daftar tuan rumah MTQ Nasional:
1968 – Makassar, Sulawesi Selatan
1969 – Bandung, Jawa Barat
1970 – Banjarmasin, Kalimantan Selatan
1971 – Medan, Sumatera Utara
1972 – Jakarta, DKI Jakarta
1973 – Mataram, Nusa Tenggara Barat
1974 – Surabaya, Jawa Timur
1975 – Palembang, Sumatera Selatan
1976 – Samarinda, Kalimantan Timur
1977 – Manado, Sulawesi Utara
1979 – Semarang, Jawa Tengah
1981 – Banda Aceh, Aceh
1983 – Padang, Sumatera Barat
1985 – Pontianak, Kalimantan Barat
1988 – Bandar Lampung, Lampung
1991 – Yogyakarta, DI Yogyakarta
1994 – Pekanbaru, Riau
1997 – Jambi, Jambi
2000 – Palu, Sulawesi Tengah
2003 – Palangkaraya, Kalimantan Tengah
2006 – Kendari, Sulawesi Tenggara
2008 – Serang, Banten
2010 – Bengkulu, Bengkulu
2012 – Ambon, Maluku
2014 – Batam, Kepulauan Riau
2016 – Mataram, Nusa Tenggara Barat
2018 – Medan-Deli Serdang, Sumatera Utara
2020 – Padang Pariaman, Sumatera Barat
2022 – Banjarbaru, Banjar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
2024 – Samarinda, Kalimantan Timur
2026 – Semarang, Jawa Tengah

Lebih dari setengah abad sejak dilembagakan sebagai ajang nasional, MTQ telah mengalami perjalanan panjang. Dari majelis para qari di tengah masyarakat, MTQ berkembang menjadi tradisi nasional yang tidak hanya menampilkan keindahan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga mendorong umat untuk menghafal, memahami, menafsirkan, menulis, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.

Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang sekaligus menandai babak baru perjalanan tersebut. Dengan keputusan menjadikan MTQ sebagai agenda tahunan serta semakin terbukanya ruang bagi peserta disabilitas, tradisi MTQ terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar utamanya sebagai bagian dari syiar dan pembinaan Al-Qur’an di Indonesia.(**)

You Might Also Like

Pemkot Semarang Ajak Warga Semarakkan Bulan Kemerdekaan
Dinkes Semarang Siagakan Tim Hingga Pemulihan Total, Meski Kondisi Pasien Keracunan MBG Mulai Membaik
Walikota Semarang Agustina Wilujeng Pastikan Simpang Lima Bersih Kembali Usai Pembukaan MTQ Nasional
Pharma City Bakal Permudah Akses Masyarakat Semarang Dapatkan Obat
BNNP Jateng–Pemkot Semarang Ajak Generasi Muda Jadi Garda Depan Lawan Narkoba
TAGGED:Kota SemarangMTQMtQ nasionalsejarah
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Nasional

Upaya Pemprov Jateng dan KAI Dalam Perluas Akses Layanan Hukum

Estu Aprilio
Estu Aprilio
17 April 2026
Pemkot Semarang Dorong Festival Cheng Ho Berkembang Jadi Event Internasional
DLH Mencatat Sudah Ada 80 Investor Minat Proyek PSEL Semarang
Putusan PTUN Tak Ganggu Operasional dan Pelayanan PDAM Tirta Moedal Kota Semarang
Wali Kota Semarang Dorong Denok Kenang Jadi Penggerak Budaya dan Pariwisata di Era Digital
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
Suara Jateng adalah media independen tentang berita terkini seputar Jawa Tengah.
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?