By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
SUARA JATENGSUARA JATENGSUARA JATENG
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Reading: Wali Kota Semarang: Trans Semarang Layanan, Bukan Bisnis
Share
Font ResizerAa
SUARA JATENGSUARA JATENG
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Search
  • Semarang
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Hukum Kriminal
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Politik
  • Olahraga
Have an existing account? Sign In
Follow US
DaerahSemarang

Wali Kota Semarang: Trans Semarang Layanan, Bukan Bisnis

Estu Aprilio
Last updated: 19 September 2026 3:57 pm
Estu Aprilio
Published: 16 September 2026
Share
SHARE

suarajateng.com (Semarang) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, berkomitmen menjadikan Trans Semarang sebagai moda transportasi berbasis layanan, bukan bisnis, demi memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat. Hal tersebut ia paparkan saat menjadi pembicara dalam Urban Climate Forum 2026 yang berlangsung di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui alokasi anggaran operasional minimal 5 persen dari APBD Kota Semarang yang tertuang dalam Pasal 140 Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perhubungan. Regulasi ini memastikan transportasi publik telah menjadi bagian dari sistem pembangunan jangka panjang di Kota Semarang dan bukan sekadar program yang bergantung pada kebijakan sesaat.

“Perda ini menegaskan posisi Trans Semarang sebagai sebuah layanan, bukan bisnis. Kami sering sekali melakukan pembebasan tarif, walaupun tarif resmi yang diatur Perda itu untuk non-tunai Rp3.500 dan tunai Rp4.000. Khusus pelajar, mahasiswa, kelompok disabilitas, lansia di atas 60 tahun, hingga veteran, tarifnya hanya Rp1.000,” terang Agustina.

Ia menjelaskan, Trans Semarang mulai beroperasi pada 2009 dengan dukungan awal dari Pemerintah Pusat. Saat itu, layanan belum seoptimal sekarang karena masih menghadapi berbagai kendala keselamatan, rute, hingga kondisi armada. Menurut Agustina, pembenahan transportasi publik tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah secara sepihak, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

“Secara historis, armada-armada kecil yang ada kemudian dirangkum dalam perhimpunan Organda Kota Semarang. Sebagian besar bus merupakan milik pihak ketiga,” jelasnya.

Agustina selanjutnya memfasilitasi skema kerja sama dengan menjadi penjamin bagi pihak ketiga dalam pengajuan modal ke perbankan. Perhitungan nilai kontrak didasarkan pada formulasi investasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Untuk menjaga kualitas pelayanan, standar ketat diterapkan: armada bus yang telah berusia di atas 10 tahun pada 2026 dan tidak bersedia diremajakan oleh pengelola tidak akan diperpanjang masa kontraknya.

“Ikon Kota Semarang itu sempat dijuluki cumi-cumi darat karena kumpulan asap hitam yang keluar dari bus-bus berusia lebih dari 10 tahun. Ada 132 bus berusia di atas 10 tahun yang akan kami ganti, dan dua di antaranya disiapkan menggunakan bus listrik,” ungkap Agustina.

Urban Climate Forum 2026 yang mengangkat tema ‘Penguatan Tata Kelola Mobilitas untuk Kota yang Berkelanjutan dan Berketahanan Iklim’ ini dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya. Selain Wali Kota Semarang, forum tersebut dihadiri sejumlah kepala daerah seperti Gubernur Jawa Barat, Gubernur Jawa Timur, Gubernur Kalimantan Selatan, dan Wali Kota Surakarta.

Kehadiran Agustina sebagai panelis utama didasari kepemimpinannya yang konsisten dalam mempertahankan alokasi subsidi transportasi publik melintasi pergantian kepemimpinan daerah. Forum ini bertujuan mengidentifikasi pendekatan mobilitas perkotaan yang berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

“Kami terus dorong agar armada pengganti untuk bus berusia di atas 10 tahun ini menggunakan bus listrik. Selain ramah lingkungan, kami memastikan desain pintu dan fasilitasnya ramah bagi penyandang disabilitas sehingga Trans Semarang menjadi transportasi publik yang inklusif bagi seluruh warga,” pungkas Agustina.

You Might Also Like

KKN Unwahas dan LPPM Dukung Kesehatan Masyarakat Gandeng Rumah Sehat BAZNAS Kendal Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Pipa Kolektor 600 mm Pecah di Gunungpati Semarang, PDAM Tirta Moedal Langsung Turunkan Tim
Satpol PP Kota Semarang Tindak Tegas 121 Juru Parkir Penunggak Setoran PAD
Sekda Jateng Sambangi Warga Terdampak Banjir di Tinanding Grobogan
Wali kota Agustina Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Mangkang dan Purwoyoso
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Semarang

Wali Kota Agustina Kebut Penanganan Longsor Kalialang

Estu Aprilio
Estu Aprilio
7 Mei 2026
Pembenahan Logistik Laut Perlu Dilakukan di Jawa Tengah
Anak Diminta Berani Bersuara, Walikota Agustina Tegaskan Semarang Bangun Kota yang Mendengar Anak
What Are Some Ways to Prevent the Spread of COVID-19?
Jateng Gencar Bidik Investor Hijau, Potensi Energi Capai 13 Gigawatt
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
Suara Jateng adalah media independen tentang berita terkini seputar Jawa Tengah.
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
  • Kantor dan Redaksi
  • Pedoman Kebijakan dan Privasi
  • Pedoman Media Saiber
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?