suarajateng.com (Semarang) – Dalam rangka Hari Ozon Internasional yang diperingati pada tanggal 16 September 2026, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang terus memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan melalui penerapan konsep eco-airport, serta penggunaan teknologi yang tidak berdampak langsung pada penipisan lapisan ozon.
“Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang mengusung konsep eco-airport, dengan mengedepankan efisiensi energi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan di lingkungan bandara,” ujar General Manager Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Sulistyo Yulianto.
Dalam kebijakan penggunaan pendingin di bandara, lanjut Sulistyo, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang menggunakan refrigeran yang memiliki Ozone Depletion Potential (ODP) nol, sehingga tidak berkontribusi langsung terhadap penipisan lapisan ozon.
Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang juga melakukan sejumlah inisiatif, di antaranya pengaturan suhu dengan menggunakan sistem zonasi, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), penggunaan lampu LED, optimalisasi pencahayaan alami, serta penerapan fitur sleep mode pada lift, elevator, dan travelator.
“Kami memanfaatkan PLTS berkapasitas 100 kWp yang terpasang di atap kanopi area parkir Gedung Administrasi dan Gedung Main Power House (MPH). Energi yang dihasilkan digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik Gedung Administrasi bandara,” ujar Sulistyo.
“Berdasarkan data yang kami himpun, selama Januari sampai dengan Juni 2026 PLTS berkapasitas 100 kilowatt-peak (kWp) telah menghasilkan energi sebesar 63.800 kWh yang digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pasokan listrik,” jelas Sulistyo.
Pengelolaan sistem pendingin udara juga menjadi bagian dari upaya efisiensi energi. Mengingat sistem pendingin merupakan salah satu komponen dengan kebutuhan energi cukup besar di area terminal, penggunaannya terus dioptimalkan sesuai kebutuhan operasional dengan tetap menjaga kenyamanan penumpang.


