suarajateng.com (Semarang) – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang menyoroti kejadian terbakarnya sebuah sepeda motor di SPBU Sriwijaya, Candisari Kota Semarang pada Jumat, 3 April 2026 lalu.
Atas adanya kejadian tersebut, Kepala Damkar Kota Semarang Sih Rianung menilai perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terutama bagi orang yang bekerja di tempat dengan risiko tinggi seperti di SPBU.
Pihaknya melihat kurangnya kesiapsiagaan petugas SPBU, ketika ada kendaraan milik salah satu pelanggan yang terbakar usai mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.
“Kita perlu kawal teman-teman SPBU untuk peningkatan SDM di mana ada keadaan darurat untuk pencegahan. Jangan sampai ada kebakaran hingga menimbulkan korban, kami siap membantu untuk melakukan pencegahan,” kata Rianung Selasa, 7 April 2026.
Rianung mengatakan setiap orang harus memiliki kepekaan bila terjadi musibah kebakaran di mana pun dan kapan pun, untuk bisa menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), termasuk di area SPBU seperti kejadian beberapa hari lalu.
“Jika ada kejadian kebakaran harus ada orang di sana yang bisa menggunakan APAR dengan baik dan harus ada kepekaan bahwa api jika didiamkan semakin besar akan sulit padam,” terangnya.
Pihaknya selalu berusaha memberikan edukasi dan sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat termasuk para pekerja dengan risiko tinggi hingga edukasi kepada anak-anak sekolah.
Dengan masifnya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan Damkar, Rianung menyebut jumlah kejadian kebakaran di Kota Semarang setiap tahunnya terus mengalami penurunan.
“Tugas kami memberikan edukasi dan sosialisasi untuk pencegahan dan pemadaman. Kita edukasi ke semua bahkan sampai ke usia dini. Kami utamakan pencegahan,” tuturnya.
Sekretaris Dinas Damkar Kota Semarang Ade Bhakti Ariawan menambahkan biasanya di lingkungan kerja seperti Pertamina yang memiliki tingkat risiko tinggi, biasanya sudah memiliki standar kualitas keamanan yang cukup tinggi terutama dalam pencegahan kebakaran.
Namun memang dalam kasus SPBU Sriwijaya ia menilai adanya miskomunikasi antara petugas SPBU dengan korban. Namun ia menyebut jika saat ini permasalahan tersebut sudah diselesaikan dengan kekeluargaan.
“Kalau kemarin saya melihat SOP SPBU pasti akan menjauhkan api dari dispenser cuma kemarin mungkin motor sudah ambruk dulu lalu diseret menjauh dispenser nah itu mungkin SOP Pertamina. Terkait penggunaan APAR mungkin itu jadi miskomunimasi tapi yang pasti jalur kekeluargaan sudah ditempuh dan sudah selesai,” jelas Ade.
Ia juga mengingatkan agar pekerja dengan risiko tinggi seperti di SPBU seharusnya sudah memiliki ketrampilan menggunakan APAR. Sehingga ketika ada kejadian kebakaran, maka petugas tidak lagi panik.
“Karyawan SPBU yang berdampingan dengan risiko tinggi maka seharusnya mereka lebih terlatih dan terampil menggunakan APAR,” pungkasnya.